Penjualan Sertifikat Energi Terbarukan PLN Meningkat Signifikan Tahun 2025

Sabtu, 24 Januari 2026 | 10:13:58 WIB
Penjualan Sertifikat Energi Terbarukan PLN Meningkat Signifikan Tahun 2025

JAKARTA - Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi pengembangan energi terbarukan di Indonesia. 

PT PLN melaporkan adanya peningkatan signifikan dalam penjualan sertifikat energi terbarukan atau Renewable Energy Certificate (REC). Total penjualan REC yang tercatat mencapai 6,43 terawatt hour (TWh), meningkat 19,65 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyampaikan melalui keterangan tertulis bahwa pertumbuhan ini menunjukkan kepercayaan tinggi pelanggan, terutama dari sektor industri dan bisnis, terhadap listrik hijau yang disediakan perseroan.

 “Angka ini tumbuh 19,65 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya.

Apa Itu Renewable Energy Certificate (REC)?

REC merupakan sertifikat yang membuktikan konsumsi listrik pelanggan berasal dari pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT). Dengan membeli REC, pelanggan dapat mendukung pengurangan emisi karbon tanpa perlu mengubah infrastruktur listrik yang sudah ada. 

Skema ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi lingkungan, tetapi juga memberikan pengakuan internasional terkait penggunaan energi hijau secara transparan.

Menurut Darmawan, meningkatnya penjualan sertifikat energi terbarukan mencerminkan kesiapan sektor industri dalam berkontribusi pada transisi energi bersih. Tren ini menunjukkan bahwa perusahaan semakin menyadari pentingnya peran mereka dalam upaya nasional menurunkan emisi karbon dan mendorong penggunaan EBT.

Pelanggan Industri Jadi Motor Pertumbuhan REC

Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, menambahkan bahwa permintaan REC paling tinggi berasal dari industri berat dan manufaktur besar. Sektor ini memerlukan konsumsi energi tinggi sehingga menjadi pengguna utama sertifikat energi terbarukan.

Adi menjelaskan bahwa pada Desember 2025, sekitar 55 persen penjualan REC berasal dari sepuluh pelanggan terbesar. “Pelanggan tersebut berasal dari berbagai sektor, seperti pertambangan, manufaktur, kimia, pulp dan kertas, serta industri makanan dan bahan baku,” jelasnya. 

Volume pembelian per pelanggan bervariasi, mulai dari 93.966 megawatt hour (MWh) hingga tertinggi mencapai 779 ribu MWh.

Kondisi ini menegaskan bahwa industri menjadi motor penggerak pemanfaatan listrik hijau di Indonesia. Selain mendukung target transisi energi nasional, penggunaan REC juga menjadi strategi bisnis bagi sektor industri dalam meningkatkan reputasi ramah lingkungan dan daya saing.

Pembangkit Energi Terbarukan yang Mendukung Layanan REC

Untuk memenuhi permintaan listrik hijau, PLN mengoperasikan 12 pembangkit energi baru dan terbarukan. 

Pembangkit tersebut meliputi PLTP Kamojang, Ulubelu, Lahendong, Ulumbu, dan Ijen, serta PLTA Cirata, Bakaru, Orya Genyem, Saguling, dan Mrica. Selain itu, pasokan juga diperoleh dari PLTM Lambur dan PLTS Cirata.

Setiap pembangkit memastikan ketersediaan listrik hijau yang dapat dipasarkan melalui skema REC maupun dedicated source. Upaya ini memastikan pelanggan memiliki pilihan dalam memenuhi kebutuhan energi bersih, baik untuk operasional harian maupun target keberlanjutan perusahaan.

Tren Positif Penjualan Sertifikat Energi Terbarukan Sejak 2020

Sejak pertama kali diluncurkan pada 2020, penjualan sertifikat energi terbarukan menunjukkan tren positif dan konsisten. Pertumbuhan ini menandakan bahwa dunia usaha semakin memahami pentingnya penggunaan energi hijau dalam mengurangi jejak karbon.

Darmawan menekankan bahwa layanan REC dirancang agar mudah diakses oleh sektor bisnis dan industri. Proses pembelian dibuat sederhana dan cepat, sehingga perusahaan dapat memenuhi kebutuhan energi berkelanjutan tanpa harus repot menyesuaikan sistem listrik yang sudah ada.

Dengan tren yang terus meningkat, PLN optimistis skema REC akan semakin diterima sebagai solusi bagi perusahaan yang ingin menjalankan bisnis berkelanjutan dan ramah lingkungan. Hal ini juga sejalan dengan agenda nasional dalam transisi energi bersih.

Manfaat Strategis Bagi Pelaku Usaha

Selain mendukung lingkungan, penggunaan REC memberi manfaat strategis bagi perusahaan. Pelanggan industri besar dapat memanfaatkan sertifikat ini sebagai bukti komitmen terhadap energi terbarukan, yang dapat meningkatkan reputasi dan posisi bisnis di pasar internasional.

Lebih lanjut, pembelian REC membuka peluang bagi perusahaan untuk ikut berperan dalam agenda transisi energi nasional. Dengan membeli listrik hijau, sektor industri tidak hanya memenuhi kebutuhan operasional tetapi juga turut menekan emisi karbon.

Prospek Pengembangan Layanan Energi Terbarukan di Indonesia

Pertumbuhan penjualan REC mencerminkan kesiapan sektor industri untuk ikut serta dalam transisi energi bersih. PLN terus meningkatkan kapasitas pembangkit EBT dan memperluas jangkauan layanan, sehingga energi hijau bisa dinikmati lebih luas oleh pelanggan, baik dalam bentuk REC maupun dedicated source.

Darmawan menekankan bahwa tren positif ini menjadi indikator bahwa energi terbarukan semakin menjadi pilihan utama sektor industri. Peningkatan kesadaran akan pentingnya keberlanjutan lingkungan dan tanggung jawab sosial perusahaan menjadi faktor pendorong utama pertumbuhan REC.

Peningkatan penjualan sertifikat energi terbarukan PLN pada 2025 menjadi bukti nyata bahwa sektor industri Indonesia semakin adaptif terhadap energi hijau. Dengan dukungan 12 pembangkit EBT, proses pembelian yang sederhana, serta kesadaran dunia usaha yang meningkat, tren penggunaan REC diperkirakan akan terus bertumbuh.

Skema ini tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga memberikan keuntungan strategis bagi sektor industri. Dengan kontribusi pelanggan dalam membeli listrik hijau, agenda nasional untuk menurunkan emisi karbon dan mendukung transisi energi bersih dapat tercapai secara lebih optimal.

Terkini