Kemenkes Tindaklanjuti Krisis Kesehatan Pascabanjir di Aceh Tamiang

Senin, 12 Januari 2026 | 13:47:27 WIB
Kemenkes Tindaklanjuti Krisis Kesehatan Pascabanjir di Aceh Tamiang

JAKARTA — Setelah banjir melanda Kabupaten Aceh Tamiang, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) langsung mengambil langkah untuk menanggulangi dampak kesehatan yang ditinggalkan bencana alam tersebut. 

Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), diare, dan infeksi kulit menjadi masalah utama kesehatan yang melanda Desa Sekumur dan Sekerak, wilayah yang paling terdampak. Kemenkes telah mengerahkan Tim Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) untuk merespons dengan cepat kondisi darurat tersebut.

Dalam keterangan resminya pada Senin, 12 Januari 2025, dr. Yulia Dewi Irawati, dokter relawan dari Kemenkes, menyebutkan bahwa kondisi lingkungan pascabanjir, kurangnya sanitasi, dan padatnya pengungsi di lokasi krisis turut memperburuk kondisi kesehatan masyarakat. Bencana yang merusak infrastruktur dan fasilitas kesehatan menyebabkan banyak warga kesulitan mengakses layanan medis yang sangat dibutuhkan.

“Selain penyakit infeksi seperti ISPA dan diare, kami juga memberikan perhatian khusus pada kelompok rentan, seperti bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, penyandang disabilitas, ODGJ, dan pasien penyakit tidak menular yang membutuhkan pengobatan berkelanjutan,” kata dr. Yulia Dewi Irawati, menggarisbawahi pentingnya perawatan bagi mereka yang paling membutuhkan.

Langkah Kemenkes untuk Mencegah Krisis Kesehatan Lanjutan

Sebagai bagian dari upaya pencegahan krisis kesehatan lebih lanjut, tim relawan Kemenkes juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta melakukan pemantauan sanitasi lingkungan untuk memastikan kebersihan dan mencegah penyebaran penyakit. Pemerintah juga memberikan perhatian terhadap kesehatan jiwa, yang berpotensi terganggu pascabanjir.

"Untuk mencegah gangguan kesehatan mental, kami turut memberikan dukungan psikososial kepada masyarakat yang terdampak, termasuk mereka yang mengalami trauma akibat bencana ini," tambah dr. Yulia.

Pemerintah menyadari bahwa bencana alam seperti banjir sering kali menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang, dan karena itu, upaya pencegahan serta intervensi sejak dini sangat penting. Mengingat kesulitan mobilitas yang dialami sebagian besar warga yang terdampak, pelayanan kesehatan diberikan di posko-posko pengungsi dan tim medis juga langsung terjun ke lapangan untuk menjangkau masyarakat yang sulit mengakses fasilitas kesehatan akibat kerusakan infrastruktur dan akses yang terbatas.

Kerusakan Fasilitas Kesehatan di Aceh Tamiang

Kondisi fasilitas kesehatan di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, cukup memprihatinkan setelah banjir melanda. Bangunan Puskesmas Pembantu (Pustu) mengalami kerusakan parah, sementara banyak alat kesehatan penting yang hanyut terbawa air, termasuk tempat tidur pasien, oksigen, dan alat infus. Sebagai akibatnya, pelayanan kesehatan di wilayah tersebut terhambat, dan fasilitas kesehatan belum bisa beroperasi secara normal.

“Ruangan pelayanan belum bisa digunakan sepenuhnya, alat-alat kesehatan banyak yang hanyut. Kami sangat berharap ada perhatian segera agar pelayanan kesehatan bisa kembali berjalan normal,” kata Siti Aisyah, Bidan Pustu Desa Sekumur.

Tantangan ini menambah beban bagi masyarakat yang sudah kesulitan menghadapi dampak fisik dari banjir. Akibatnya, Kemenkes merespons dengan mengirimkan Tim Relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Batch II untuk memperkuat penanganan krisis kesehatan di daerah-daerah yang terisolasi akibat bencana ini.

Pengiriman Relawan dan Pendampingan Layanan Kesehatan

Kemenkes mengerahkan lebih banyak tenaga medis untuk melakukan pelayanan kesehatan di posko-posko pengungsi dan wilayah yang aksesnya terhambat. Tim relawan juga berkoordinasi dengan tenaga medis lokal untuk memastikan bahwa layanan kesehatan dasar tetap dapat diberikan selama masa pemulihan. Pendampingan serta upaya pemulihan fasilitas kesehatan dilakukan secara bertahap agar masyarakat dapat segera memperoleh layanan yang optimal.

Dalam rangka menanggulangi krisis kesehatan pascabencana, Kemenkes juga menyiapkan mekanisme pemulihan yang berkelanjutan. Dengan adanya dukungan dari tenaga medis dan relawan, Kemenkes berharap masyarakat di wilayah terdampak, seperti Aceh Tamiang, dapat segera pulih dari dampak kesehatan akibat banjir.

Tantangan Pemulihan Pasca Bencana

Proses pemulihan kesehatan pascabencana sering kali menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait dengan kerusakan infrastruktur dan fasilitas kesehatan yang dibutuhkan untuk memberikan perawatan kepada masyarakat. Salah satu tantangan terbesar adalah memastikan distribusi bantuan medis tepat sasaran dan menjangkau masyarakat yang tinggal di daerah-daerah terisolasi.

Namun, dengan adanya tim relawan yang terus bergerak di lapangan dan koordinasi yang kuat antara Kemenkes, tenaga medis lokal, serta masyarakat setempat, upaya pemulihan diharapkan dapat dilakukan secara lebih cepat dan efektif. Dalam hal ini, pemerintah berkomitmen untuk melanjutkan penanganan kesehatan di Aceh Tamiang dan wilayah lainnya yang terdampak, sampai seluruh sistem kesehatan kembali pulih sepenuhnya.

Kemenkes menunjukkan respons cepat dalam menanggulangi krisis kesehatan di Aceh Tamiang pascabanjir dengan mengirimkan tenaga medis dan memberikan perhatian khusus terhadap kelompok rentan. Upaya pencegahan dan pemulihan berkelanjutan menjadi fokus utama agar masyarakat dapat segera pulih dan kembali menjalani kehidupan mereka. Dalam situasi darurat ini, kolaborasi antara pemerintah, tenaga

Terkini